mengejar arafah, bukan arafah yang lari dikejar, bukan pula kaki yang ngejar arafah berlari, akan tetapi maksud dari ungkapan ini adalah berdasar pada sabda Rosulallah S.A.W yang berbunyi "haji adalah wukuf di arafah...", dengan kata lain haji seseorang tidak sah jika tidak berwukuf di padang arafah. banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak dapat berwukuf di arafah, seperti halnya terhambat di perjalanan, ban mobil pecah, terjegal di pintu masuk karena urusan administratif haji, sakit keras dan faktor lain yang menyebabkan seseorang itu tidak sampai ke arafah, semua itu bukan lantaran dia tidak berusaha, juga bukan lantaran dia tidak memaksimalkan niat hajinya, hanya Alloh jua lah yang berkuasa atas kehendaknya.
memasuki hari ke-9 djulhijjah, para jema'ah berebut arus menuju padang arafah dengan niat dan harapan bisa sampai dan berwukuf disana setelah tergelincir matahari (dzuhur), ada yang berjalan kaki dari masjidil haram menuju arafah yang berjarak kurang lebih 22 km, numpang diatap kendara'an, mengendarai motor, di bis ber-ac bagi haji elite dan alternatif lain yang ada demi mengejar hari arafah yang menjadi prioritas ibadah haji, bunyi klakson mobil, teriakan keras para jema'ah dan suara sirineu ambulance menghiasi perjalanan menuju padang arafah. subhanallah!... sungguh begitu agung hari itu, hari dimana telah Alloh takdirkan sebagai sebaik-baiknya hari, hari disa'at dan dimana adam dan hawa dipertemukan didunia dan hari ketika manusia digambarkan berada di alam mahsyar menunggu pengadilan Alloh akan amal perbuatan yang telah diperbuat semasa hidup didunia.
saya beserta rombongan berangkat menuju arafah sebelum fajar sekitar pukul 03:00 wsa, tadinya saya pribadi berharap berangkat selepas shalat fajar berdasar pada sunnah Rosulallah S.A.W, namun untuk menghindari kemacetan dan keterlambatan sampai di arafah, saya hanya bisa menerima dan mengikuti kemana rombongan bergerak. Alhamdulillah kami tiba di arafah sewaktu shalat fajar sekitar pukul 06:00 wsa pagi.
selama menunggu matahari tergelincir (dzuhur), berbagai aktifitas dilakukan oleh para jema'ah, ada yang tidur karena kelelahan, mendaki jabal rahmah dan berphoto disana, membangun tenda dan ada juga yang khusyu berdzikir dan berdo'a menanti sa'at wukuf dimulai, kalo saya pribadi ingin mencoba duduk dan beri'tikaf sambil menunggu waktu dzuhur tiba, tapi mata telah cukup lelah dan memaksa untuk lelap sejenak alias "ketiduran juga".
setelah beberapa sa'at terlelap, saya mencoba memaksakan diri untuk beranjak dan mengambil wudhu dengan hati berkata "jauh-jauh datang ke arafah ko mau tidur-tiduran, mendingan dirumah aja!...", mempertahankan i'tikaf sambil berdzikir memang nggak mudah, banyak sekali goda'an yang membisik disana, mata ngantuk, ngobrol sesuatu yang nggak penting (menggunjing), berphoto ria, mendaki jabal rahmah tanpa maksud dan tujuan yang jelas dan banyak goda'an lain yang menghalangi perhatian akan tujuan wukuf yang sebenarnya.
selepas shalat dzuhur dan ashar (jama & qashar) berjama'ah, para jema'ah mulai bergegas dan berwukuf ditempatnya masing-masing, diantara mereka ada yang masih tetap asyik ngobrol dan terlelap tidur, saya bersiap duduk untuk memulai berwukuf, namun hari itu syetan menggoda dengan kuatnya, belum pernah saya bisa duduk sambil tertidur, tapi kali ini saya benar-benar terlelap dan "astaghfirullah!..., aku berlindung kepada Alloh dari goda'an syetan yang terkutuk!...", saya kembali mengambil wudhu dan meneruskan wukuf meski goda'an masih terus menghantui.
Alhamdulillah, dengan terus berdo'a dan berdzikir, goda'an itu sedikit demi sedikit mereda dan sampai pada penghujung waktu wukuf ketika matahari mulai terbenam, terharu rasanya memandang matahari yang hendak tenggelam diantara juta'an manusia diatas padang arafah itu, sedih ketika harus ditinggalkan hari yang begitu agung itu, bersyukur dan bersujud kepada Alloh atas karunia agung dan telah berkenan mentakdirkanku untuk berwukuf di hari yang agung. setelah matahari terbenam, saya memutuskan untuk segera melaksanakan shalat maghrib dengan pertimbangan bahwa saya akan kehabisan waktu shalat maghrib sebelum sampai di muzdalifah yang begitu padat dan macet oleh mobil dan para jema'ah.
dimalam ke-10 djulhijjah ini para jema'ah bersiap diri untuk menghadapi jumroh aqobah yang cukup berat dan berbahaya, tercatat dari sejarah perjalanan ibadah haji tahun-tahun sebelumnya banyak para jema'ah yang meninggal dunia di area jamarat yang sering disebut sebagai simbol pelemparan terhadap iblis yang menggoda nabi ibrohim ketika hendak menyembelih puteranya yaitu nabi ismail. sebelum menghadapi hal tersebut, para jema'ah bersiap diri dengan kesiapan pribadi masing-masing, mencari kerikil untuk pelemparan jumroh aqobah, berdzikir dan berdo'a kepada Alloh untuk keselamatan diri dan para jema'ah serta kesiapan lainnya untuk menghadapi hari nahr (10 dzulhijjah) besok pagi.
disamping perasa'an kekhawatiran yang ada diatas, ada juga kejadian-kejadian lucu yang kadang membuat kita tertawa, seperti hanya para jema'ah yang mengumpulkan kerikil dengan jumlah yang melebihi kebutuhan, untuk melempar jumroh aqobah hanya dibutuhkan 7 kerikil saja, namun ada yang mengumpulkan melebihi 100 kerikil, ada juga yang tidak bisa membedakan antara kerikil dan tai kambing, akhirnya setelah mereka sibuk mencari kerikil dan yang didapat hanya kotoran kambing, "dicobain dulu rasanya!..." lost in jamarat, selepas shalat fajar berjama'ah di muzdalifah, kami bersiap untuk berangkat menuju mina dengan bis, seperti biasa kami terjebak dalam kemacetan yang panjang, hampir 3 jam di kendara'an, kami belum juga sampai di mina, padahal jarak antara muzdalifah dan mina cukuplah dekat jika ditempuh dengan berjalan kaki tanpa kemacetan, untuk menghidari keterlambatan pelemparan jumroh aqobah yang disyare'atkan selepas waktu dzuha, saya dan beberapa jema'ah memutuskan untuk turun dan keluar dari bis, pilihan untuk jalan kaki menuju area jamarat memang lebih baik daripada harus terlambat menunggu kemacetan di bis.
setelah keluar dari bis, saya berjalan sendiri sambil mencari beberapa makanan kecil dan air minum untuk bekal di area jamarat, sebab saya sering mengalami dehidrasi jika berada dibawah terik matahari terlebih lagi ditengah kerumunan juta'an manusia. setelah bebarapa sa'at mencari air minum, saya terpisah dan kehilangan teman rombongan, disana ujian Alloh mulai muncul, awalnya saya tidak terlalu khawatir dan beranggapan bahwa bis rombongan akan berhenti tidak jauh dari tempat saya turun tadi, tapi setelah mulai memasuki area jamarat dan melihat ponsel yang baterenya tinggal sedikit juga semua barang bawa'an tertinggal di bis, saya mulai berfikir dan khawatir tidak bisa berkomunikasi dengan rombongan dan kehilangan jejak mereka, saya berusaha untuk tetap tenang dan bertawakal kepada Alloh akan keada'an yang sedang saya alami.
setelah mendekati area jamarat, saya bertemu dengan 3 orang jema'ah haji rombongan dari jawa timur (indonesia), berbincang dengan mereka sambil terus berjalan menuju area jamarat yang masih cukup jauh, kekhawatiran mulai mereda seiring setelah berbincang dengan mereka sampai tiba di area jamarat yang sudah padat oleh jama'ah. saya memilih mengambil jumroh dijalur lantai dua, sebab jalur dasar (lantai dasar) sudah terlalu padat dan di blokkir oleh para sekuriti (askari) untuk menghindari penumpukkan jema'ah dan korban jiwa. sambil berjalan menaiki jalur jamarat yang cukup tinggi, terdengar suara takbir dan talbiyah yang cukup menggetarkan hari, berdo'a kepada Alloh dan bersukur "ya Alloh, terima kasih telah berkenan mengizinkanku untuk sampai di jamarat-Mu...".
tiba sa'atnya pelemparan jumroh aqobah yang sudah penuh oleh jema'ah, pada hari nahr ini (10 djulhijjah), para jema'ah melempar hanya pada satu jumroh terbesar (jumroh aqobah) saja, sehingga para jema'ah datang pada jumroh yang sama dan waktu yang sama pula. Alhamdulillah pada musim haji kali ini, site plane untuk jamarat dipermudah dengan dibangunnya beberapa tingkat untuk pelemparan jumroh, sehingga dapat mengurangi jumlah korban jiwa seperti pada musim haji tahun-tahun sebelumnya.
selepas pelemparan jumroh aqobah, saya mencoba untuk menghubungi supir bis rombongan, tapi Alloh telah berkehendak dan batere ponsel saya sudah tidak bertenaga lagi, sambil tengak-tengok kiri-kanan dan berharap bisa bertemu rombongan, saya beranjak menuju tempat cukur rambut (barber) diluar area jamarat yang juga sudah penuh oleh jema'ah pria, membeli 2 buah pisau cukur seharga 15 riyal dan mencari orang yang bisa mencukur gundul rambut saya untuk bertahallul awal, cukup lama saya menunggu antrian dan akhirnya saya menemukan orangnya diarea kamar mandi (toilet) pria dan harus membayar lagi 10 riyal untuk jasa mencukur.
selepas bercukur gundul, saya masih tetap mencari rombongan yang hilang, membeli pakaian ala (sudani) plus celana seharga 20 riyal, belum juga nampak seorangpun dari rombongan dan akhirnya saya memutuskan untuk berangkat menuju mekkah sendirian untuk melaksanakan thowaf ifadhoh dan sa'i haji yang menjadi rukun haji, cukup jauh saya berjalan dari area jamarat menuju mekkah (kurang lebih 4 km) menyusuri terowongan mina yang panjang, sambil terus bertalbiyah dan berdo'a memohon pertolongan Alloh.
sesampainya di masjidil haram, seperti biasa saya mensucikan diri dengan berwudhu, antriannya panjang banget, bisa kencing dicelana duluan kalau nggak bisa nahan tu k'belet. selepas berwudhu langsung menuju ka'bah untuk ber-thawaf Ifadhoh, "subhanAlloh... sungguh besar agama Islam itu, hampir tidak ada sudut yang kosong di masjidil haram yang tersisa, semuanya terisi oleh jema'ah...", suasana thowaf para jema'ah alhamdulillah berjalan dengan baik, meskipun kadang terdapat sedikit perdebatan diantara jema'ah, "harrik harrik yaa hajji!...", begitulah kalimat yang sering terdengar diantara jema'ah haji yang artinya kurang lebih "minggir minggir ya haji!...", selain itu ada juga kejadian tentang meninggalnya jema'ah haji sa'at ber-thawaf dan langsung di-sholatkan disana, "ya Alloh ampunilah segala dosanya, terimalah amal kebaikannya dan jadikan ia sebagai haji mabrur...".
selepas ber-thawaf langsung menuju bukit shafa dan marwah untuk melaksanakan sa'i haji, pada musim haji tahun ini jalur shafa dan marwah ditambah menjadi dua jalur, jalur yang baru berada dibagian kanan/batas dinding masjid, keada'an ini semakin memudahkan para jema'ah dalam melaksanakan sai tanpa terlalu berdesak-desakan dan memakan korban jiwa, meskipun jalur shafa dan marwah tersebut sudah digandakan, namun masih tetap sempit dan padat oleh jema'ah dan kadang para sekuriti (askari) sering memberhentikan para jema'ah yang sedang ber-sa'i untuk mengendalikan arus para jema'ah. adzan maghrib berkumandang bersama'an dengan selesainya saya melaksanakan sa'i haji dan sholat berjama'ah diteras masjidil haram yang agak becek oleh air zam-zam yang tumpah menggenangi lantai teras masjid. selepas shalat isya berjama'ah, saya berniat untuk mencari charger ponsel sony ericsson tua'ku, nyari kesana-sini tidak juga saya dapati, kaki sudah cukup lelah untuk berjalan dan akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke mina dengan menumpang kendara'an bak terbuka dengan ongkos sebesar 10 riyal bersama para jema'ah lainnya, berharap bisa segera sampai ke mina dan beristirahat, namun kemacetan panjang seperti biasa menjebak diperjalanan, haus tapi tidak punya persedia'an air, lelah tapi harus tetap menunggu "laahawla walaaquwata illaabillaahil aliyyil adziim...".
passion of mina, belum sampai ke mina, saya memutuskan untuk turun dari kendara'an dan mencari penjual air minum dijalan, istirahat sejenak dibawah jembatan arah menuju mina yang dipenuhi rumput hijau, telapak kaki terasa sakit untuk melangkah dan ingin hati melelapkan mata namun perjalanan masih jauh yang harus ditempuh. dengan tekad yang kuat dan percaya akan kekuatan Alloh yang besar, saya berdiri dan melanjutkan perjalanan menuju mina dengan hati berkata "yaa Alloh... ampunilah segala dosa-dosaku, ma'afkan aku! jika sedikit saja ujian yang Kau beri, aku sudah mengeluh... ma'afkan aku! jika sebentar saja coba'an yang Kau timpakan, aku sudah berburuk sangka...". sambil terus berdo'a dan memohon ampunan Alloh, saya tetap berjalan menuju mina meski kaki sudah melebihi rasa sakit yang teramat sakit, perjalanan masih teramat jauh (kurang lebih 3 km) dari area mina.
alhamdulillahi robbil aalamiin... akhirnya gerbang batas mina nampak dihadapan mata dan kembali mengucap syukur kehadirat Alloh yang telah memberi kekuatan untuk bisa sampai di mina. setelah memasuki area mina, segera mencari tempat untuk beristirahat sambil mencari teman rombongan yang hilang, sa'at itu hampir tidak ada tempat diarea mina yang kosong sedikitpun dan terpaksa harus menggelar kain ihrom sebagai tikar "ma'afkan aku yaa ihrom!...", beristirahat dan terlelap sampai menjelang fajar tiba.
selepas shalat fajar, saya berangkat sendiri menuju area jamarat untuk melempar 3 jumroh pada hari ke-11 (tasyrik), dengan perut kosong tanpa berbekal makanan ataupun minuman, saya terus melanjutkan perjalanan sambil mencari teman rombongan yang mungkin terlihat. berniat melempar jumroh namun tidak satupun kerikil yang saya punya, dengan pertolongan Alloh, saya bertemu dengan seorang saudara muslim berkebangsa'an bangladesh dan berbincang sejenak sambil menyaksikan arus jema'ah yang berbondong-bondong menuju area jamarat, dia memberi saya 4 buah biskuit dan 7 butir kerikil untuk melempar jamarat, "alhamdulillah!...", tidak berlangsung lama saya berbincang dengan dia dan saya memutuskan untuk kembali berbalik arah menjauhi area jamarat untuk mencari 14 kerikil lainnya yang belum saya punya, membeli nasi kabsah (ala arab) seharga 10 riyal dan mengambil kerikil didekat sebuah tempat wudhu disepanjang perkemahan di mina.
setelah semuanya siap, saya kembali berangkat menuju area jamarat dengan semangat dan hati tetap bertawakal kepada Alloh akan keada'an yang sedang saya alami, kembali terdengar suara takbir dan membuat air mata ini menetes seraya memohon ampunan akan dosa-dosa yang telah saya perbuat dimasa lalu, kali ini saya mengambil jalur dasar (lantai dasar) jamarat dan melempar di 3 jamarat, "puji syukur kehadirat Alloh yang telah memberiku kekuatan untuk kembali melempar jumroh dihari ke-2...".
selepas melempar jumroh, saya berjalan menuju tempat penjualan makanan (al-baik) didekat area jamarat, yang disana berkumpul para jema'ah yang berasal dari arab saudi sendiri, keluarga, para pekerja, dan pendatang yang tidak memiliki perkemahan khusus di mina, mereka tidur dan menginap dimana saja alias "nge-gembel", tidur dibawah barak, teras bangunan, diatas gunung dan tempat apa saja yang bisa dijadikan tempat beristirahat dan berteduh. saya bergabung bersama mereka, dan "subhanAlloh..., betapa besar tekad mereka, betapa tulus niat haji mereka, meski hanya berbekal tikar dan peralatan seadanya, tidur diluaran dibawah cuaca dingin tanpa tenda dan selimut, mereka tetap berjuang dengan menghilangkan ego dan pamor untuk melaksanakan kewajiban mereka akan Alloh S.W.T..., ".
sejenak bersama mereka telah membuat hati ini sadar dan mengerti akan fitrah manusia sebagai makhluk Alloh yang tidak hanya dipandang dari pangkat, jabatan dan keada'an yang membuat manusia itu terhormat, terhina dalam mengemban takdir Alloh yang berbeda-beda. dalam ibadah haji, kita tidak lagi melihat seseorang dari tahtanya, berapa banyak bekal yang dia bawa, karena dihadapan Alloh, ditanah haram kepunya'an Alloh semua manusia sama, putih, hitam, kaya ataupun miskin tidak lagi diperhitungkan dihadapan Alloh. haji elite, haji sexy, haji gembel, haji adalah untuk Alloh, datang menyambut panggilan-Nya, memuja dan meng-Esa-kan kehadirat-Nya, bukan untuk bersuka ria menikmati pelayanan hotel yang mewah, bukan untuk mencari pasangan sebaya dan bukan pula untuk formalitas demi jabatan yang dipunya. sepanjang mata memandang dan seluas mulut ini berucap, saya banyak sekali menyaksikan tipe dan penampilan para jema'ah yang mungkin bisa dikategorikan sebagai salah niat, "orang haji ko nggak mau kepanasan, orang haji ko dandanannya menor, orang haji ko pakaiannya sexy, orang haji ko! bla bla bla...". ingin hati tidak memandang hal-hal yang berbau maksiat, ingin hati menutup mata dari pandangan dosa, namun pemandangan seperti itu banyak berlalu-lalang dihadapan mata, jadi mau tidak mau harus melihat meskipun hati tidak ingin melihat.
berbincang dengan saudara muslim berkebangsa'an mesir dan meminta sedikit bantuan kepadanya, dia bersedia menolong dan meminjamkan ponselnya dan saya pakai untuk menghubungi teman rombongan, tidak ada satupun nomor yang bisa dihubungi, hati tetap berusaha sabar dan tidak mengeluh dengan keada'an yang sulit. menjelang malam hari udara mulai terasa dingin, hanya pakaian tipis dan kain ihrom yang terlipat dijinjing plastik sambil berdo'a "robanaa yaa robanaa... dzolamnaa anfusanaa wailamtaghfirlanaa latarhamna lanakunana minal khosiriin...", selepas shalat maghrib dan isya berjama'ah, saya memilih untuk beristirahat dan melelapkan mata dengan beralaskan kain ihrom dipinggir jalan bersama para jema'ah lain, alhamdulillah Alloh masih tetap memberikan nikmat-Nya, saya tertidur lelap hingga menjelang fajar tiba (pukul 03:25 wsa), kemudian mencari tempat wudhu yang sudah dipenuhi oleh antrian jema'ah.
selepas shalat fajar berjama'ah, saya beranjak ke tempat yang semula, kembali air mata ini menetes dan memohon ampunan atas segala dosa, berusaha tetap tegar, tidak mengeluh dan tidak berburuk sangka kepada Alloh yang sedang memberikan ujian ini. selepas waktu dzuha saya pergi mencari kerikil dibawah sebuah bukit didekat terowongan mina yang menuju kearah mekah, kemudian langsung berangkat menuju area jamarat untuk melempar jumroh dihari ke-12 (tasyrik), tadinya saya berencana untuk melempar jumroh sampai hari ke-13 (nafar akhir), namun karena keada'an yang terlampau sulit, niat itu tidak saya wujudkan.
beautiful wadha, saya memutuskan untuk melampar jumroh pada waktu dzuha dengan alasan supaya bisa melaksanakan shalat jum'at di masjidil haram sekaligus melaksanakan thawaf wadha yang menjadi penutup dari ibadah haji, dengan hati tetap tegar dan tawakal saya berangkat menuju area jumroh dan langsung menuju masjidil haram untuk melaksanakan thowaf wadha sebelum shalat jum'at, "masyaa Alloh!, sungguh besar karunia iman yang telah Alloh berikan, juta'an jema'ah berbondong-bondong menuju masjidil harom menyusuri terowongan mina yang panjang, muda, dewasa dan lanjut usia semua berjuang dengan sisa kekuatan yang ada untuk mencapai ridho tuhannya...".detik-detik terakhir ibadah haji, saya nikmati bersama ka'bah dan juta'an umat muslim dari seluruh penjuru dunia, terharu ketika waktu harus memisahkan peristiwa yang teramat berharga dalam hidup saya, menangis ketika mata harus segera berpisah meninggalkan rumah Alloh yang teramat agung itu, hanya doa dan ucap syukur atas segala karunia dan kekuatan yang telah Alloh berikan kepada saya sepanjang mengelilingi ka'bah, "terima kasih yaa Alloh.. telah memberiku nikmat dan kekuatan hingga sampai pada penghujung ibadah haji ini...".
selepas thawaf wadha, saya langsung bergegas menuju tempat wudhu untuk bersiap melaksanakan shalat jum'at, "subhanAlloh.. sungguh indah kalimat hutbah itu, sungguh menyentuh untaian do'a itu.. meski dalam bahasa yang hanya sedikit ku mengerti, namun telah membuat hati ini bergetar, meski lantunan do'a itu hanya sebentar, namun telah membuat air mata ini menetes...", suara adzan masjidil haram menambah suasana lebih mangharukan, bergema diseluas masjid yang begitu agung itu, membangkitkan keimanan bagi yang mendengarnya.
selesai sudah semua rangkaian ibadah haji, namun ujian masih terus berjalan, hanya keimanan dalam hati yang membuat langkah tetap berjalan, percaya bahwa Alloh selalu dekat dan akan memberikan pertolongan. sekitar pukul 03:15 wsa sebelum ashar, saya bertemu dengan dua saudara muslim berkebangsa'an pakistan, bertanya dan meminta pertolongan untuk bisa bertemu dengan teman rombongan, alhamdulillah mereka bersedia membantu dan meminjamkan ponselnya untuk saya pakai menghubungi teman rombongan, "sungguh Alloh maha pengasih dan penyayang, memberi ujian dan pertolongan bagi siapa saja yang memohon kepada-Nya..", kemarin saya sama sekali tidak bisa menghubungi teman rombongan, namun kali ini Alloh telah menunjukan jalan saya untuk kembali bertemu dengan rombongan, ternyata mereka sudah berada di penginapan semula (haial awali) yang berada di perbatasan mina dan arafah, Alhamdulillah...
finally... semoga sekecil dan sebesar apapun pengorbanan harta yang tertunaikan, menjadi keberkahan bagi kita yang menunaikan ibadah haji serta memberi manfa'at bagi sesama selepas kembali ke tempat asal, semoga setiap tetesan keringat yang menetes, rasa sakit yang menghujam dan air mata yang mengalir, menjadi ampunan akan segala dosa dan membentangkan lebar pintu surga Alloh yang dijanjikan. sa'at terlelap kedinginan, yakinlah bahwa Alloh akan membalasnya dengan kehangatan cinta-Nya dan sa'at terhempas kepanasan, yakinlah pula bahwa Alloh akan menebusnya dengan kesejukan kasih sayang-Nya, bertawakallah dan memohon pertolongan selalu hanya pada Alloh dengan sabar dan shalat, karena Alloh selalu dekat sa'at kita mendekatinya...
.

4 kata kamu:
subhanallah.. subhanallah..
bergetar hati saya k'yhadee ngebacanya.. kangen ka'bah.. kangen suasana hati di sana.. semoga k'yhadee bisa jadi haji mabrur.. semoga saya dan keluarga bisa menyusul.. amiin..
alhamdulillah mas baik2 aja disana. insha Allah bisa menjadi haji mabrur, amin..
pingin kesana :(
^azkaa,, mkasih ka ka doa'nya, oia ka! kmaren udah sya doa'in buat azka dsana, mdh2an terkabul!..
^santi,, amiiin.. insyaAlloh, mkasih san, mdh2n santi jga bsa ksana, sya doa'in jga..
amiin :)
Posting Komentar